Pemantauan Kinerja Lereng Untuk Operasional Pertambangan yang Aman Dan Berkelanjutan

Events

Pemantauan Kinerja Lereng Untuk Operasional Pertambangan yang Aman Dan Berkelanjutan

STUDI KASUS NYATA

Pada sebuah tambang terbuka besar, sistem radar dan prism sebenarnya telah menunjukkan peningkatan kecepatan deformasi beberapa minggu sebelum longsor. Namun ambang batas TARP tidak diperbarui meski kondisi geologi dan curah hujan berubah. Pergerakan dianggap “masih aman” hingga terjadi percepatan tiba-tiba dan kegagalan lereng besar yang menghentikan operasi. Insiden ini menegaskan pentingnya evaluasi tren deformasi, kalibrasi threshold, dan disiplin respons berbasis data monitoring.

LATAR BELAKANG

Kegagalan lereng tambang bukan peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Hampir selalu ada tanda awal — pergerakan kecil, perubahan tekanan air pori, retakan halus, atau tren deformasi yang diabaikan.

Pemantauan lereng merupakan sistem peringatan dini (early warning system) yang krusial dalam menjaga keselamatan, kontinuitas produksi, dan keberlanjutan operasi tambang terbuka. Tanpa sistem monitoring yang terintegrasi dan respons yang tepat, risiko keruntuhan dapat berkembang menjadi insiden fatal, kerugian finansial besar, hingga penghentian operasi.

Pelatihan ini membahas pendekatan komprehensif dalam surface dan sub-surface monitoring, penetapan kriteria pergerakan lereng, penyusunan Trigger Action Response Plan (TARP), serta validasi parameter geoteknik melalui back analysis berbasis data aktual dan pemodelan 3D slope stability.

TUJUAN PELATIHAN

  • Memahami urgensi sistem pemantauan lereng dalam konteks operasional tambang terbuka.

  • Menguasai prinsip mekanisme kelongsoran dan interpretasi risiko berbasis data monitoring.

  • Mampu memilih dan mengimplementasikan instrumen monitoring (surface & sub-surface) sesuai kondisi geoteknik.

  • Menyusun kriteria pergerakan lereng dan Trigger Action Response Plan (TARP) yang efektif.

  • Melakukan back analysis parameter geoteknik berbasis data aktual lapangan.

  • Memahami integrasi data monitoring dengan pemodelan stabilitas lereng 3D untuk pengambilan keputusan.

MATERI PELATIHAN

  • Strategi pemilihan dan implementasi instrumen sub-surface monitoring (inclinometer, piezometer, extensometer).

  • Teknologi surface monitoring modern: Radar slope monitoring, prism, drone, LiDAR, dan GNSS.

  • Penetapan kriteria pergerakan lereng dan sistem TARP berbasis level risiko.

  • Metode prediksi waktu keruntuhan berbasis tren deformasi dan velocity threshold.

  • Back analysis parameter geoteknik menggunakan data monitoring dan model stabilitas 3D.

  • Integrasi sistem monitoring dalam pengelolaan risiko lereng tambang secara berkelanjutan.

 

MENGAPA TRAINING INI PENTING?

Sebagian besar kegagalan lereng bukan karena tidak ada data,
melainkan karena:

  • Threshold tidak dikalibrasi ulang

  • Data tidak dianalisis tren-nya

  • TARP tidak dijalankan dengan disiplin

  • Parameter desain tidak divalidasi dengan kondisi aktual

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan lebih aware terhadap pola kegagalan yang berulang di industri dan mampu membangun sistem monitoring yang benar-benar berfungsi sebagai alat pengendalian risiko, bukan sekadar formalitas.